Pati, Berita10 – Ketua Asosiasi Peternak Unggas Pati, Dwi Agus Siswanto mengatakan, telur dari peternak lokal mulai terserap di beberapa SPPG. Namun, serapannya disebut masih belum maksimal. Ia menyebut serapan telur dari peternak lokal untuk SPPG belum menyentuh 1 ton. Padahal menurutnya, telur seharusnya dapat terserap sekitar 20 ton per pekannya.
“Sudah terlaksana tapi sedikit sekali. Mungkin perlu sosialisasi. Serapannya dari 172 SPPG baru 21 SPPG. Jauh dari harapan kita,” katanya. Selain soal serapan telur, para peternak juga menuntut supaya pemerintah memikirkan keberlangsungan peternakan di Bumi Mina Tani ini. Termasuk menurunkan harga pakan yang dinilai memberatkan dan menstabilkan harga ayam maupun telur.
Telur dari peternakan lokal masih belum terserap di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Pati secara maksimal. Para peternak yang tergabung dalam Asosiasi Peternak Unggas Pati pun mendatangi Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati.
Kedatangan mereka merupakan tindak lanjut aksi demonstrasi yang digelar di depan Kantor Bupati Pati pada bulan Agustus 2026 lalu. Dalam aksi itu, para peternak salah satunya meminta agar semua SPPG di Pati menyerap telur dari peternakan lokal. Para peternak ini pun diterima oleh pimpinan DPRD Pati dan Komisi B DPRD Pati Muslihan di Ruang Paripurna beserta Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Pati.
“Tuntutan bukan hanya MBG saja, tapi menyeluruh memperbaiki peternakan unggas. Ke depannya kita akan ke pusat menyampaikan aspirasi dari peternak lokal sendiri,” tegasnya. Ketua Komisi B DPRD Muslihan menjelaskan bahwa terkait penyerapan telur lokal ini sebenarnya telah diatur oleh Kementerian Pertanian (Kementan).“Kita merujuk dari surat edaran Kementerian Pertanian ada pertemuan di Surabaya 11 Agustus 2026 tentang pengaturan mekanisme SPPG untuk mengambil telur dari peternak daerah masing-masing. Harga terakhir Rp26.500,” terangnya. Gos