Pati, Berita10 – Anggota Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati Sudi Rustanto memberikan tanggapan terkait kondisi sekarang ini. Nelayan di Kabupaten Pati terdampak tingginya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar nonsubsidi. Pasalnya, akibat kenaikan solar nonsubsidi ini banyak nelayan yang tak bisa pergi mencari ikan. Ia menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi ini jelas memberatkan para nelayan di wilayah berjuluk Bumi Mina Tani tersebut.
Politikus dari Partai PDIP dari dapil 3 itu menjelaskan, kapal nelayan di atas 30 GT saat ini harus memakai BBM nonsubsidi yang mengalami kenaikan harga. Ia pun meminta pemerintah menetapkan BBM khusus nelayan sehingga bisa berlayar lagi untuk mencari ikan. Karena solar industri ini adalah solar nonsubsidi. Kenaikannya cukup signifikan. Banyak kapal yang berhenti melaut karena tidak mampu membeli solar industri tersebut, katanya.
Sudi menilai solar khusus nelayan tersebut sangat diharapkan kehadirannya oleh para pencari ikan. Pasalnya, jika masih memakai solar nonsubsidi dinilai sangat memberatkan, baik bagi pelaku usahanya maupun nelayannya. Karena sistem pembagian di kapal nelayan khususnya di Juwana ini adalah bagi hasil,” ucapnya.“Kalau harga solarnya naik tinggi, otomatis menjadi tanggungan teman-teman nelayan,” imbuhnya. “Saya berharap sebagai Anggota Dewan, meneruskan aspirasi dari teman-teman nelayan, berharap ada solar industri khusus nelayan,” tambahnya.
“Saya berharap pemerintah pusat bisa mengakomodasi aspirasi dari teman-teman nelayan untuk terealisasi adanya solar atau BBM khusus nelayan,” pungkasnya. Menurutnya, banyak kapal yang belum melaut karena BBM naik cukup signifikan, sehingga dipastikan berdampak terhadap produktivitas perikanan daerah. Dirinya menambahkan, kenaikan harga solar sangat merugikan para nelayan.Ia menyebut hampir 80 persen kapal-kapal nelayan di Juwana tak berangkat melaut karena imbas kenaikan harga solar. Gos