Pati, Berita10 – Bagi Witono warga desa Banjarsari Kecamatan Gabus Kabupaten Pati panen padi merupakan rejeki tersendiri baginya, meski tidak ikut menanam padi namun dari tanaman padi itulah dia mendapatkan penghasilan. Dulu jika tiba panen padi pemilik sawah biasanya ”woro-woro ” atau memberikan pengumuman kepada tetanggan bahwa padinya akan di panen. Oleh karena itu bagi siapa saja yang ikut potong padi dipersilakan , adapun pengupahannya dengan sistem bagi hasil panen.
Namun saat ini tradisi ”derep” dengan memobilisasi para tetangga untuk memanen padi tidak ada , sehingga saat ini muncul usaha baru memanen padi yang lazim di sebut ” Tebasan ” atau panen padi secara borongan. Pemilik lahan padi yang siap panen tinggal menerima uang secara kontan menurut kesepakatan dan penebas itulah yang kemudian memanen padi di lahan petani. Semua tenaga yang berhubungan dengan pemotongan padi perontokan sampai pengangkutan ke mobil semua dimobilisasi oleh penebas. Oleh karena itu saat ini pekerjaan penebas padi merupakan usaha yang menjanjikan dan bisa meraup keuntungan yang cukup besar dalam setiap panen.
” Saya sudah lebih 12 tahun menekuni usaha penebasan padi , dari usaha ini saya banyak untung daripada ruginya . Ya resepnya harus bisa menaksir padi dilahan petani misalnya setiap hektar bisa mendapatkan gabah berapa ton dengan nilai berapa di tambah biaya operasional panen dan angkutan setelah ketemu baru tawar-menawar dengan pemilik sawah ”, ujar Witono yang ditemui di persawahan desa Panjunan Kecamatan Pati Kota.
Menurut Witono agar penebas mendapatkan keuntungan , yang terpenting adalah penaksiran padi di lahan ini dilihat dari kondisi tanaman padi disawah kekeringannya, jarang rapatnya padi dan juga luas lahan. Selain itu pula juga melihat kondisi hasil potong padi di sawah sekitarnya, jika kiri kanan lahan baik maka di dekatnya juga baik. Namun sebaliknya jika sawah didekatnya hasilnya jelek tidak berisi maka hal itu harus diwaspadainya jika menaksir sawah di sekitarnya.
Selain itu juga tenaga pemotongnya harus selalu diawasi jangan sampai ada padi yang terlewatkan dan bersisa yang kemudian menjadi rejeki para pengasak. Untuk perontokannya juga perlu diawasi benar-benar agar semua padi bisa rontok bersih dan masuk pada zak-zak yang telah dipersiapkan. ” Ya yang namanya pekerja kadang-kadang anak-anak jika tidak diawasi dengan baik ada juga yang berbuat curang atau bekerja tidak teliti ”, tambah Witono.
Para pekerja yang ikut memanen padi dengan dirinya setiap harinya sekitar 20 – 30 orang dengan sistem borongan , upah mereka setiap harinya Rp 90 ribu – 120 ribu yang diberikan ketika gabah naik diatas truk . Setiap harinya dia mencari daerah panen baru yang juga diikuti oleh para pekerjanya yang selalu membantu kerjanya . Selain daerah Pati sendiri , dia juga melakukan invasi tebas padi di daerah lain seperti , Kudus, Jepara, Semarang, Kendal dan juga Batang. Daerah Jawa Timur juga pernah ia datangi sepeti Tuban, Lamongan, Gresik dan juga Bojonegoro.
Jika jauh biasanya dia menggunakan tenaga kerja pemanen padi dari daerah setempat , yang upahnya juga hampir sama di daerah Pati. ” Ya jika ditanya hasil dari menebas padi ini ya tidak bisa dihitung , selain menyekolahkan anak sampai sarjana semua juga ada yang lainnya. Namun semua anak kami tidak ada yang meneruskan usaha seperti ini maklum mereka semua anak sekolahan sehingga bisa mencari kerja yang lainnya ”, ujar Witono yang setiap hari bisa membawa pulang gabah minimal 12 – 17 ton dari tebasan panen padi.
Sementara itu para petani yang ditemui mengatakan adanya usaha tebas padi ini cukup meringankan beban petani , selain tidak repot mengeluarkan biaya panen juga cepat mendapatkan uang. Oleh karena itu jika ada tawaran dari penebas kemudian dihitungkan biaya operasional garap padi sudah masuk maka padipun diserahkan kepada penebas untuk dipotong. Namun demikian ada juga petani yang memotong padinya sendiri dengan membayar kuli sampai ke rumah dan penjualannya nanti jika gabah sudah kering atau langsung digilingkan menjadi beras. Tetapi jumlah yang demikian itu tidak banyak , rata-rata para petani menjual padinya secara cepat kepada penebas. Tim


