Menengok Sejarah Pati

sejarah patiBerita10.com – Pati, Berdasarkan rujukan berbagai sumber yang dapat dipertanggungjawabkan antara lain Prasasti Tuhannaru dan Kitab Babat dalam seminar yang dilaksanakan pada tanggal 28 September 1993 di Pendopo Kabupaten Pati melalui musyawarah dan mufakat. Akhirnya para perwakilan lapisan masyarakat, para guru sejarah Sekolah Menengah Atas, konsultan dan dosen fakultas sastra dan sejarah Undip Semarang telah disepakati dan diputuskan bahwa pada tanggal 7 Agustus 1323 sebagai hari kepindahan Kadipaten Pesantenan dari Desa Kemiri ke Desa Kaborongan. Dengan perpindahan tersebut maka Kadipaten Pesantenan yang saat itu dipimpin Adipati Tombronegoro berubah nama menjadi Kadipaten Pati.

Sebagai tindak lanjut hasil tersebut pada tanggal 31 Mei 1994 ditetapkan Perda Kabupaten Dati II Pati Nomor 2 Tahun 1994 yang menetapkan tanggal 7 Agustus 1323 sebagai Hari Jadi Kabupaten Pati dengan surya sengkala “Kridhane Panembah Gebyaring Bumi” yang bermakna “dengan bekerja keras dan penuh doa, kita gali kekayaan bumi Pati untuk meningkatkan kesejahteraan lahiriah dan batiniah”. Selanjutnya Perda tersebut diundangkan dalam Lembaran Daerah Kabupaten Dati II Pati pada tanggal 14 Juli 1994 Nomor 5 seri D Nomor 5 dan disyahkan dengan Keputusan Gubernur Jawa Tengah pada tanggal 5 Juli 1994 Nomor 188.3/239/1994.
Lahirnya Kadipaten Pesantenan berawal dari perselisihan antara Kadipaten Carangsoko yang dipimpin Adipati Puspa Andungjaya dengan Kadipaten Paranggaruda yang dipimpin Yudhapati. Perselisihan tersebut dikarenakan gagalnya pernikahan antara putri Adipati Puspa Andungjaya yang bernama Roro Rayungwulan dengan putra Adipati Yudhapati yang bernama Raden Josari. Pada saat itu prajurit Kadipaten Carangsoko dibawah komando Raden Sukmayana mengalami kekalahan dari prajurit Paranggaruda yang menyebabkan gugurnya Raden Sukmayana. Selanjutnya adik kandungnya yang bernama Raden Kembangjoyo memimpin prajurit Carangsoko meneruskan peperangan dengan pusaka Rambut Pinutung dan Kuluk Kanigoro serta bantuan Ki dalang Soponyono. Sebagai mana kepercayaan masyarakat ketika itu, barang siapa yang memiliki pusaka Keris Rambut Pinutung dan Kuluk Kanigara akan menjadi orang yang berkuasa. Akhirnya Raden Kembangjoyo berhasil memenangkan pertempuran.
Berkat jasa dan sikap kepahlawanannya, akhirnya Raden Kembangjoyo dinikahkan dengan putrid Roro Rayungwulan sekaligus memimpin Kadipaten Corongsoko dan Paranggaruda. Guna mengatur roda pemerintahan supaya berjalan efektif maka pusat pemerintahannya dipindah dari Corongsoko ke Desa Kemiri dengan meleburkan kedua Kadipaten dengan nama Kadipaten Pesantenan serta Raden Kembangjoyo bergelar Adipati Joyokusumo. /Tim Lip B10

Menengok Sejarah Pati | admin | 4.5